Senin, 09 Januari 2012
operasi
pagi itu awalnya biasa-biasa saja. bangun pagi jam setengah 9, menurut saya masih agak pagian. kasurku rasanya masih cukup sejuk untuk kutiduri satu jam lagi. belum lagi, hari ini gak ada kuliah. tambah deh rasa ngantuk yang belum lunas terbayarkan oleh tidur 7 jam yang baru saja aku akhiri. ahh, pagi yang biasa, sampai aku teringat bahwa hari ini aku tidak boleh terlambat ke rumah sakit. aku akan di operasi. waduh!! aku agak panik.
jam sembilan lewat, aku sudah di depan setir, bersiap mengantar diriku sendiri untuk operasi di rs. akademis. ayah yang sudah pensiun itu bersedia menemani. ibu pun demikian. ia minta dijemput dari kantor sepagi ini demi menemaniku bertarung melawan gunting dan pisau bedah. thanks, pa, ma! ujarku dalam hati.
sesuai jadwal, jam 10 tepat aku sudah check-in. mendaftar ke sana sini, isi blanko ini itu, tanda tangan di kertas warna warni, ditanyai segala macam, semuanya lah. aku mulai gugup. pipisku mulai tak tertahan lagi ketika diantar menuju ruang operasi yang berada di area barat rumah sakit.
suster mina tampak kebingungan ketika aku baru saja kembali dari toilet. "cepat mko! adami dokternya". yup, jam 11 tepat, sesuai janji pak dokter. fi ruang persiapan, aku disuruh menanggalkan semua pakaian luar, lalu diganti dengan pakaian steril serba hijau, dan ditambah tutup kepala yang sama seperti yang wanita kenakan jika sedang mandi. lucu juga, pikirku. sempat ada keinginan iseng untuk foto-foto, mumpung tampang lagi aneh, bisa jadi bahan seru-seruan buat kakak sulungku dirumah atau teman-teman kampus. tapi tiba-tiba seperti ada yang menyergah, "operasi ini bukan main-main, nak!". ah, sudah lah. hp, dompet, jam, gelang pb abal-abal, dan semua uang receh yang di kantong kutitip di tas kecilku yang dipegang ayah. mereka, kedua orang tuaku, tidak banyak bicara, tidak banyak kata-kata, hanya mengangguk dan menatapku penuh doa. "sudah toh? ha, ayomi!", suster mina kemudian menuntunku meninggalkan ruang persiapan tadi, meninggalkan mereka, membawa serta doa mereka, menuju ruang operasi.
"chaerul, apa kabar?", sapa dokter boy. "agak tegang, dok. hehee..", jawabku santai. perbincangan kecil kemudian terjadi antara kami berdua di selasar gedung operasi itu. kami memang sudah sangat akrab. dua bulan terakhir, tiap tiga atau lima hari aku datang ke kliniknya untuk mengontrol abses di telinga sebelah kanan ini. infeksinya sudah hampir menjalar ke kartilango, jadi harus cepat ditangani, dan harus hati-hati. sepintas disela perbincangan itu aku menoleh ke ruang-ruang operasi yang kami lewati. di salah satu ruangannya ada seorang pasien yang sedang di bedah sekitar perutnya. waw, speechless.
aku di bedah di ruang operasi nomor 6, kalau tidak salah ingat. ruangannya sama seperti ruang operasi yang biasa muncul di film-film. ada tempat tidur, warnanya hijau juga, lalu ada lampu bulat di atasnya, terus ada meja bedah yang isinya gunting-gunting dan pisau-pisau stainless steel, lalu ada alat pengukur denyut jantung, cpr, macam-macam deh. dokter pun menyuruhku berbaring sambil menjelaskan prosedur operasinya. suster mina dan satu dokter bedah menemani dokter boy yang bertindak sebagai dokter kepala kali ini.
"oke, chaerul. sekarang kamu akan dibedah. jadi prosedurnya, jaringan kulit disini akan diangkat sekitar beberapa centi ke bawah, jaringan rusaknya diambil, lalu ditutup. dijahit nanti. sederhana kan? tapi, chaerul, walaupun ini operasi ringan, tapi kalau jaringan kulit ini tidak bisa menutup, kami akan oper kamu ke spesialis bedah plastik". aku terkejut. operasi ringanku akan jadi operasi besar kalau begini. wah, bingung, tegang, gugup, whatever. "oke, dok. saya percaya sama dokter". aku tersenyum, berusaha menguatkan diriku sendiri. "oke, kita mulai", kata dokter sambil menyalakan lampu besar di atas kepalaku. silau meen.
suntikan biusnya sakit sekali. perih. panas. ada sekitar 3 atau 4 titik yang dibius.
"tahan sedikit, chaerul!"
"siip, dok!". jempolku kuangkat sebagai tanda setuju.
beberapa menit berlalu. suara-suara gunting stainless steel sudah tidak se-intens sebelumnya. kepala sebelah kiriku rasanya sedikit tertarik kulit-kulitnya. sesekali dokter mengintipku dari balik tudung penutup wajahku lalu menyuruhku mengedipkan mata kanan. aku tidak tahu artinya. ia tetap tenang. aku pun berusaha tenang. sesekali ia menyebutkan istilah-istilah aneh yang tidak kumengerti. sudah pasti itu istilah kedokteran.
sejam berlalu. kata-kata dokter yang "ya, sedikit lagi!" menyemangatiku untuk tetap bertahan. sampai ketika sang dokter bedah yang semok itu berkata, "oke, dok. siap dijahit. hentikan pendarahan, sus!", lalu dokter boy menambahkan, "ya', beres. sudah selesai pengangkatannya, chaerul. sisa dijahit", ah, aku pun menarik napas lega. namun tarikan napas itu tertahan ketika aku mengingat kata-kata dokter boy sebelum operasi. Ya Allah, semoga bisa menutup. semoga nda sampeka di bedah plastik. aaamiiin. *hopefull.
"oke, selesai!"
"sudah, chaerul. pelan-pelan bangunnya", dokter bedah dan dokter boy berkata padaku. ah, akhirnya. badanku rasanya pegal semua. sejam berbaring dengan posisi kepala dan badan ke kiri terus tidak goyang-goyang, sumpah, pegel banget. ini yang aku sebut tadi dengan kata "bertahan".
"antar ke ruang OK, sus!"
dengan kepala yang mati rasa sebelah, aku jalan mengikuti suster mina. di ruang OK, sudah terisi tiga pasien. semuanya terbaring lemas tanpa daya. dokter jaganya bingung melihatku, pasien muda cakep jalan sendiri tanpa dituntun, trus naik ke tempat tidur bukannya baring, eh, malah duduk santai. "lha wong masih kuat kok, dok", kataku dalam hati. oh, ternyata ruang ini memang khusus penanganan pasien yang baru saja habis operasi. baru tahu aku.
singkat cerita, setelah disuntik anti-inflamasi, dokter boy mengantarku keluar, ke orang tuaku, yang sudah dari tadi menungguku diruang tunggu.
"pak, operasinya berhasil. ini kantong absesnya sudah diangkat, siapa tahu mau dibawa pulang jadi kenang-kenangan?" canda dokter tua itu. aku segera berganti baju.
"oke, chaerul, selamat! tapi ingat ya, lukanya jangan kena air dulu, nanti jahitannya lepas. lusa masih tetap ke klinik ya, buat kontrol lukanya. oke!!"
"siip, dok. terima kasih banyak, dokter!"
"saya pamit ya, chaerul, pak, bu!"
kami senyum mengangguk. ia dokter yang baik. ramah. penuh pengalaman. dan profesional. teringat kata-kata dokter di ruang OK tadi, "sobekan tadi berhasil ditutup. gak besar kok lukanya, jadi bisa kita jahit tadi. maaf kalo tadi agak sedikit menakut-nakuti ya. saya hanya sekedar mengingatkan diri saya sendiri, bahwa walaupun ini operasi yang mudah, tapi kita juga harus bersiap untuk yang terburuk. jangan karena mudahnya itu kita jadi terlena, dan tidak ada persiapan menghadapi resiko yang kemungkinannya tetap ada. ingat, chaerul, jangan pernah menggampang-gampangkan sesuatu".
terima kasih dokter boi, kak rini, dokter ema, suster mina, dan semua tim medis. terima kasih pa, ma. dan, terima kasih, Ya Allah. :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar