Minggu, 08 Januari 2012
bulan penuh berkah
waktu itu tarwih malam ke-6. aku menyempatkan diri sholat di mesjid meski perban di telinga ini masih menonjol, dan membuat anak-anak kecil itu sedikit takut dan mencibir, "hii, kenapa mi itu telinganya?? pasti dilappoki petasan..", simpulnya. ah, cuek aja dehh.
setelah ceramah tarwih berakhir, sang imam pun mulai mengambil tempat di depan. ia masih muda, belum kepala tiga, pikirku. aku sholat di saf ketiga, berdampingan dengan seorang tetangga di sebelah kanan, dan seorang kakek tua yang tidak ku kenal di sebelah kiri.
sholat pun dimulai. semua jamaah sholat dengan khusyuk. sesekali kakek di sebelahku ini memecah keheningan dengan batuknya. aku pun maklum. tapi tanpa sengaja, aku memperhatikan gerak geriknya. memang tidak ada yang beda dengan gerakan sholatnya, tapi ada yang kurang. kurang cepat, kurang lincah. ia kalah dengan jamaah lain, yang tentunya mengikuti ritme dan irama sholat sang imam muda itu. sedangkan si kakek, gerakannya lambat dan sedikit patah-patah. rukuk dan sujud susah, bangunnya juga susah. seolah-olah, tiap gerak yang ia lakukan menimbulkan sedikit rasa sakit yang harus ia tahan. ketika sedang sujud, belum dua detik ia mendaratkan keningnya di sajadahnya, belum lengkap bacaan sujudnya, dan mungkin belum lengkap pula doa dan pengharapannya pada Sang Kuasa dalam sujudnya, sang imam sudah mengucapkan takbir bangun dari sujud. begitu seterusnya, di gerakan-gerakan sholat berikutnya, di delapan rakaat tarwih dan tiga rakaat witir malam itu.
ramadhan memang bulan penuh berkah. penuh Rahman dan Rahim dari Allah SWT. dan di bulan itu, kita semua berlomba-lomba mendapatkan berkah-Nya. berkah yang pasti tidak ternilai harganya. semoga kakek tadi kebagian berkah, atas perjuangan dan keikhlasannya dalam beribadah kepada-Nya. aamiin..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar