Minggu, 08 Januari 2012
lagi GeJe..
sepertinya baru kali ini saya bicara terbata-bata pada seorang wanita, dan ibunya, ehm. bagaimana tidak, saya sudah menyusun rencana memberikan sebuah kejutan padanya, dengan semua perencanaan yang matang, dengan segenap rasa was-was dan canggung yang datang serta perasaan lain yang tidak tahu darimana datangnya, tiba-tiba semuanya.. aduh, sungguh diluar dugaan.
...
kuparkir mobilku di seberang rumahnya. sebelum turun, tentu saya harus melihat keadaan sekitar, alih-alih ada yang di luar dugaan, bisa langsung ku antisipasi. motor hijaunya tidak tampak, sesuai dugaan, sesuai perencanaan, artinya ia memang tak berada di rumah, persis dengan yang dikatakannya padaku sehari sebelumnya. status: clear!
ibunya sedang duduk di toko kecil miliknya, sambil melepas ikatan dari rambutnya yang mulai memutih itu, lalu memasang ikatan itu kembali. tampaknya ia sedikit bingung dengan kehadiranku di depannya. biasanya jika ada pembeli, setidaknya ia langsung mengeluarkan secarik kertas berisi daftar belanjaan, atau uang pecahan besar yang sebenarnya memang hendak ditukarkan dengan membeli jajanan murah, atau handphone, karena di toko itu juga menyediakan pulsa. tapi saya hanya membawa sebuah buku bersampul merah. mungkin pikir sang ibu, saya hendak menjual buku itu padanya, dengan sebuah cerita derita mengharukan, penuh mengiba, agar ia mau membeli buku yang aku bawa dengan penuh rasa belas kasihan, lalu ia akan mendapatkan hadiah lebih besar dari pertolongan yang telah ia berikan karena saya adalah bagian dari tim "minta tolong" yang tayang di tv itu. ah, mukaku gak tampang-tampang kasihan juga kok (bercermin).
singkat cerita, ia masih sedikit bingung karena saya tidak berniat menjual buku itu padanya. ku beri salam dengan penuh hormat, senyum, lalu berkata,
"permisi bu, bisa minta tolong titip buku ini ke kika??"
sekali lagi ia menatapku dalam. satu hal yang kuharap ia lakukan segera, adalah mengambil buku merah itu, lalu menanyakan siapa namaku, dan berakhir dengan kata, "oh iya. terima kasih, nak! nanti ibu titipkan buku dan salamnya buat kika". *nah lho, siapa yang nitip salam nih??
tapi sekali lagi, harapan selalu punya jarak dengan kenyataan. sang ibu kemudian mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak kusangka sebelumnya,
"ohh, ada ji, nak.. ikkaa.. ada temanmu ee.. siniko!!".
*gubrakk.. @#&$!%?/)€¥!!!! sungguh di luar dugaan, saudara-saudara. saya hanya bisa menelan ludah. surprisenya gagal!!!
and then, the best and also the worst part's of this story is, kika tiba-tiba keluar dari rumah, dengan tampang seadanya, pakaian juga seadanya, ee, ekspresi juga seadanya, menyambutku seadanya.
"ini.. buku.. 2.. eeh.. buku.. keduanya.. mas.. dhonny.. llumayan.. kerenn..", sambil mengacungkan jempol.
belum sempat ia berkata apa-apa, aku langsung melirik ke kanan, lalu mundur selangkah.
"eehh.. cabutma.. nahh.."
"ihh, nda masukko dulu??", balasnya.
"eehh.. ituu..", saya mulai bingung.
"mauko ke mana??", aduh, saya makin tertekan.
"eehh.. anu.. mauma.. ke ..selayar.."
"ohh. thanks nah!!"
"iyya.. ehh.. misi, tante.. duluan, kika!". *aduh, panas.. keringatan nihh..
singkat sekali. dan, kentara sekali (groginya. hahaa). sebenarnya saya bisa lebih santai, jika ia keluar dari rumah dengan rapi, sudah mandi, memakai jilbabnya, dan tentunya ibunya tidak menonton kami berbicara berdua.
hufth..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar