Senin, 09 Januari 2012
kace lulus
bulan lalu, kakak sulungku baru saja menyelesaikan pendidikan strata pertamanya. wajahnya sumringah. tentu saja ia sangat senang. senyum kegembiraannya merupakan manifrstasi perjuangan di bangku kuliah selama lebih empat tahun. ia tak lagi peduli dengan dandanan menornya. ia tak peduli lagi dengan baju jubah kebesarannya yang memang agak kebesaran. dan ia tak peduli lagi dengan kami, keluarga yang kepanasan menunggu di luar karena tidak kebagian kursi di dalam gedung.
sedang aku, masih banyak tugas yang harus aku selesaikan di kampus sebelum aku menyelesaikan pendidikan strata satu itu.
smangat, tun!!
new year wishes
sekarang sudah hari ketiga januari. mungkin belum telat kali ya kalo hari ini saya bikin new year wishes. ya, belum terlalu. hehee
oke, harapan yang pertama.. apa dulu nih? mobil? motor? kamera dslr? netbook? pacar baru?
ah, terlalu muluk-muluk.
yang pasti, di tahun yang baru ini, semoga kita semua lebih sehat, dan lebih kuat dalam menjalani hari-hari berikutnya, lebih bisa bersyukur atas apa yang telah kita terima, lebih sadar untuk berbuat lebih baik lagi buat diri kita dan orang-orang di sekitar kita. that's it..
aaamiiin, ya Allah. :)
refleksi akhir tahun
sekarang sudah masuk penghujung 2011. tidak ada inovasi yang aku ciptakan beberapa waktu belakangan ini. yang ada hanya stagnasi. atau bahkan lebih buruk, anti-klimaksasi. aku sudah lupa dengan visi-misi tahunan yang biasa aku buat di setiap awal tahun. aku terlena. aku bagaikan masuk dalam sekte "hidup adalah saat ini". padahal penganut "hidup adalah ketika kita berhasil mewujudkan cita-cita kita di masa yang akan datang" lebih banyak berhasil. aku juga ingin berhasil. aku juga ingin maju. aku ingin berkembang. aku tidak bisa hanya diam, menunggu "saat ini" datang, padahal hari esok juga "saat ini" jika sudah tiba waktunya.
maafkan aku, ya Tuhan. maafkan aku yang telah merugi. aku harap tahun depan tulisan ini akan berjudul "proyeksi", bukan "refleksi" sekali lagi. aaamiiin.
bebas part 1
satu hal yang saya suka dari kesendirian itu adalah: kebebasan, bebas ngapain aja. dan hari ini saya kembali merasakan "a lil' bit" dari kebebasan itu. menyetir sendiri, menyetel suara tape keras-keras, lalu mengikuti lirik-lirik lagu yang sedang dimainkan, sambil sesekali menambah adrenalin dengan menginjak dalam-dalam pedal gas, sungguh menyenangkan sekali. ini adalah salah satu caraku membuang segala rasa penat yang ada di dada dan di kepala. sekaligus mengekspresikan segala emosi yang sempat tertahan.
want to try it??
:)
curhat sedikit saja..
Ada beberapa saat (mungkin sepersekian detik) dimana seseorang dapat terlihat cantik … atau sangat cantik.. dan saya baru saja menikmatinya beberapa detik yang lalu
kutipan 3
"Don't leave the one you love for the one you like, bcuz the one you like will leave you for the one they love..."
bye, marco..
merinding rasanya abis liat review kecelakaan yang dialami oleh pembalap marco simoncelli di motogp seri sepang, malaysia, sore tadi. bayangkan, ia jatuh tergelincir lalu ditabrak oleh colin edwards dari arah belakang dalam kecepatan sekitar 100kpj. helmnya lepas. mungkin itu juga pertanda bahwa karir balapnya juga akan segera lepas.
anehnya, setelah mendapat kabar kepastian tewasnya marco, saya seperti merasa kehilangan. seolah-olah, marco adalah keluarga saya, teman saya, sahabat saya. sumpah, sekali pun, saya tidak pernah bertemu atau berkenalan dengannya. tapi tetap saja, saya seperti sedang kehilangan seorang teman.
mungkin karena saya adalah penggemar motogp, tahu seluk beluk tentang motogp, tahu semua peserta balapan, sirkuit balapan, sampai gaya membalap pembalapnya, sedikit banyak saya tahu. apalagi gaya membalap marco yang agak ekstrim, membedakan ia dengan rider lain ketika saling beradu cepat di sirkuit.
yah, sekali lagi saya merasa kehilangan seorang teman. walaupun balapan di sepang tadi dibatalkan karena insiden simoncelli, tapi menurut saya, simoncelli lah pemenangnya. ia membalap hingga garis finish kehidupannya, dan pembalap lain tak ada satu pun yang bisa mengejarnya.
bye, marco..
there's no crash in heaven..
kalau kamu ada di sini..
kalau kamu ada di sini, aku harap pintu itu menghilang, agar kau tetap tinggal dan tak kembali pulang.
kalau kamu ada di sini, aku harap hujan takkan pernah berhenti, agar senyummu tetap bisa menyelimuti hati.
kalau kamu ada di sini, aku harap waktu berhenti, agar detik bersamamu terasa abadi.
kalau kamu ada di sini, berceritalah semaumu. setiap pori dinding akan merekam. gemanya akan terngiang, tertabung di ingatanku.
kalau kamu ada di sini, aku tak akan takut gelap lagi.
kalau kamu ada di sini, tempat ini akan menjadi tempat ternyaman di dunia yang pernah dimiliki bumi.
kini, kuharap segala kalau itu menghilang dan terlebur bersama api.
kamu. aku. benar-benar ada di sini.
wanita cantik
wanita cantik itu memang bagaikan bintang di langit..
selain cahayanya yang indah dan senantiasa menghiasi langit angan-angan para pria, mereka juga sangat jauh, sulit untuk digapai. mereka memang ada, selalu ada, selalu tampak dan terlihat indah dari kejauhan. dan.. biasanya, mereka memang hanya sebatas angan-angan..
operasi
pagi itu awalnya biasa-biasa saja. bangun pagi jam setengah 9, menurut saya masih agak pagian. kasurku rasanya masih cukup sejuk untuk kutiduri satu jam lagi. belum lagi, hari ini gak ada kuliah. tambah deh rasa ngantuk yang belum lunas terbayarkan oleh tidur 7 jam yang baru saja aku akhiri. ahh, pagi yang biasa, sampai aku teringat bahwa hari ini aku tidak boleh terlambat ke rumah sakit. aku akan di operasi. waduh!! aku agak panik.
jam sembilan lewat, aku sudah di depan setir, bersiap mengantar diriku sendiri untuk operasi di rs. akademis. ayah yang sudah pensiun itu bersedia menemani. ibu pun demikian. ia minta dijemput dari kantor sepagi ini demi menemaniku bertarung melawan gunting dan pisau bedah. thanks, pa, ma! ujarku dalam hati.
sesuai jadwal, jam 10 tepat aku sudah check-in. mendaftar ke sana sini, isi blanko ini itu, tanda tangan di kertas warna warni, ditanyai segala macam, semuanya lah. aku mulai gugup. pipisku mulai tak tertahan lagi ketika diantar menuju ruang operasi yang berada di area barat rumah sakit.
suster mina tampak kebingungan ketika aku baru saja kembali dari toilet. "cepat mko! adami dokternya". yup, jam 11 tepat, sesuai janji pak dokter. fi ruang persiapan, aku disuruh menanggalkan semua pakaian luar, lalu diganti dengan pakaian steril serba hijau, dan ditambah tutup kepala yang sama seperti yang wanita kenakan jika sedang mandi. lucu juga, pikirku. sempat ada keinginan iseng untuk foto-foto, mumpung tampang lagi aneh, bisa jadi bahan seru-seruan buat kakak sulungku dirumah atau teman-teman kampus. tapi tiba-tiba seperti ada yang menyergah, "operasi ini bukan main-main, nak!". ah, sudah lah. hp, dompet, jam, gelang pb abal-abal, dan semua uang receh yang di kantong kutitip di tas kecilku yang dipegang ayah. mereka, kedua orang tuaku, tidak banyak bicara, tidak banyak kata-kata, hanya mengangguk dan menatapku penuh doa. "sudah toh? ha, ayomi!", suster mina kemudian menuntunku meninggalkan ruang persiapan tadi, meninggalkan mereka, membawa serta doa mereka, menuju ruang operasi.
"chaerul, apa kabar?", sapa dokter boy. "agak tegang, dok. hehee..", jawabku santai. perbincangan kecil kemudian terjadi antara kami berdua di selasar gedung operasi itu. kami memang sudah sangat akrab. dua bulan terakhir, tiap tiga atau lima hari aku datang ke kliniknya untuk mengontrol abses di telinga sebelah kanan ini. infeksinya sudah hampir menjalar ke kartilango, jadi harus cepat ditangani, dan harus hati-hati. sepintas disela perbincangan itu aku menoleh ke ruang-ruang operasi yang kami lewati. di salah satu ruangannya ada seorang pasien yang sedang di bedah sekitar perutnya. waw, speechless.
aku di bedah di ruang operasi nomor 6, kalau tidak salah ingat. ruangannya sama seperti ruang operasi yang biasa muncul di film-film. ada tempat tidur, warnanya hijau juga, lalu ada lampu bulat di atasnya, terus ada meja bedah yang isinya gunting-gunting dan pisau-pisau stainless steel, lalu ada alat pengukur denyut jantung, cpr, macam-macam deh. dokter pun menyuruhku berbaring sambil menjelaskan prosedur operasinya. suster mina dan satu dokter bedah menemani dokter boy yang bertindak sebagai dokter kepala kali ini.
"oke, chaerul. sekarang kamu akan dibedah. jadi prosedurnya, jaringan kulit disini akan diangkat sekitar beberapa centi ke bawah, jaringan rusaknya diambil, lalu ditutup. dijahit nanti. sederhana kan? tapi, chaerul, walaupun ini operasi ringan, tapi kalau jaringan kulit ini tidak bisa menutup, kami akan oper kamu ke spesialis bedah plastik". aku terkejut. operasi ringanku akan jadi operasi besar kalau begini. wah, bingung, tegang, gugup, whatever. "oke, dok. saya percaya sama dokter". aku tersenyum, berusaha menguatkan diriku sendiri. "oke, kita mulai", kata dokter sambil menyalakan lampu besar di atas kepalaku. silau meen.
suntikan biusnya sakit sekali. perih. panas. ada sekitar 3 atau 4 titik yang dibius.
"tahan sedikit, chaerul!"
"siip, dok!". jempolku kuangkat sebagai tanda setuju.
beberapa menit berlalu. suara-suara gunting stainless steel sudah tidak se-intens sebelumnya. kepala sebelah kiriku rasanya sedikit tertarik kulit-kulitnya. sesekali dokter mengintipku dari balik tudung penutup wajahku lalu menyuruhku mengedipkan mata kanan. aku tidak tahu artinya. ia tetap tenang. aku pun berusaha tenang. sesekali ia menyebutkan istilah-istilah aneh yang tidak kumengerti. sudah pasti itu istilah kedokteran.
sejam berlalu. kata-kata dokter yang "ya, sedikit lagi!" menyemangatiku untuk tetap bertahan. sampai ketika sang dokter bedah yang semok itu berkata, "oke, dok. siap dijahit. hentikan pendarahan, sus!", lalu dokter boy menambahkan, "ya', beres. sudah selesai pengangkatannya, chaerul. sisa dijahit", ah, aku pun menarik napas lega. namun tarikan napas itu tertahan ketika aku mengingat kata-kata dokter boy sebelum operasi. Ya Allah, semoga bisa menutup. semoga nda sampeka di bedah plastik. aaamiiin. *hopefull.
"oke, selesai!"
"sudah, chaerul. pelan-pelan bangunnya", dokter bedah dan dokter boy berkata padaku. ah, akhirnya. badanku rasanya pegal semua. sejam berbaring dengan posisi kepala dan badan ke kiri terus tidak goyang-goyang, sumpah, pegel banget. ini yang aku sebut tadi dengan kata "bertahan".
"antar ke ruang OK, sus!"
dengan kepala yang mati rasa sebelah, aku jalan mengikuti suster mina. di ruang OK, sudah terisi tiga pasien. semuanya terbaring lemas tanpa daya. dokter jaganya bingung melihatku, pasien muda cakep jalan sendiri tanpa dituntun, trus naik ke tempat tidur bukannya baring, eh, malah duduk santai. "lha wong masih kuat kok, dok", kataku dalam hati. oh, ternyata ruang ini memang khusus penanganan pasien yang baru saja habis operasi. baru tahu aku.
singkat cerita, setelah disuntik anti-inflamasi, dokter boy mengantarku keluar, ke orang tuaku, yang sudah dari tadi menungguku diruang tunggu.
"pak, operasinya berhasil. ini kantong absesnya sudah diangkat, siapa tahu mau dibawa pulang jadi kenang-kenangan?" canda dokter tua itu. aku segera berganti baju.
"oke, chaerul, selamat! tapi ingat ya, lukanya jangan kena air dulu, nanti jahitannya lepas. lusa masih tetap ke klinik ya, buat kontrol lukanya. oke!!"
"siip, dok. terima kasih banyak, dokter!"
"saya pamit ya, chaerul, pak, bu!"
kami senyum mengangguk. ia dokter yang baik. ramah. penuh pengalaman. dan profesional. teringat kata-kata dokter di ruang OK tadi, "sobekan tadi berhasil ditutup. gak besar kok lukanya, jadi bisa kita jahit tadi. maaf kalo tadi agak sedikit menakut-nakuti ya. saya hanya sekedar mengingatkan diri saya sendiri, bahwa walaupun ini operasi yang mudah, tapi kita juga harus bersiap untuk yang terburuk. jangan karena mudahnya itu kita jadi terlena, dan tidak ada persiapan menghadapi resiko yang kemungkinannya tetap ada. ingat, chaerul, jangan pernah menggampang-gampangkan sesuatu".
terima kasih dokter boi, kak rini, dokter ema, suster mina, dan semua tim medis. terima kasih pa, ma. dan, terima kasih, Ya Allah. :)
andai facebook . . .
andai saja facebook itu seorang manusia, ia pasti akan menjadi orang yang memiliki banyak teman. kemampuan dan kesanggupannya dalam mendengarkan setiap unek-unek yang kita utarakan lewat status saya kira belum ada yang menyamai. saya saja yang memang punya banyak teman, sampe-sampe gak hapal semua nama teman saya, ternyata masih kalah dengan facebook. facebook sekarang sudah berteman dengan hampir sepertiga jumlah penduduk bumi. sedangkan saya, setengah mahasiswa kampus saja nggak cukup kali ya. hahaa
andaikan facebook adalah seorang manusia, pasti pahalanya banyak, trus nanti masuk surga. bukan hanya karena menjadi teman dari banyak orang, tapi karena memdengarkan segala keluh kesah teman-temannya. ya, walaupun hanya mendengarkan, tetapi setidaknya ia tidak pernah protes terhadap segala hal yang ditumpahkan padanya. ia juga bisa membuat orang tersenyum, ketika salah seorang temannya membagi sesuatu yang lucu padanya, lalu ia bagikan lagi kepada teman-temannya yang lain. atau ketika ia mempertemukan seorang anak yang yang hilang dengan ayahnya setelah terpisah 16 tahun. atau ketika... aduh, lupa. pokoknya banyak deh.
andaikan facebook itu manusia, ia sepertinya akan marah jika teman-temannya adalah seorang pengeluh. siapa yang nggak bosan coba kalo yang diceritakan ke kita itu keluhan semua. apalagi kalo ngeluhnya hanya karena hal-hal yang kecil saja, kayak cuaca panas lah, macet lah, tv rusak lah. emang nggak bisa sabar apa?? tuh kan, jadi nggak sabar beneran sayanya. maap.. maap..
andaikan facebook itu manusia, ia pasti jadi the best friend lah buat kita semua. the real friend, or the true friend, atau more than just a best friend, whatever lah. intinya ia pasti jadi sahabat yang baik. ia selalu ada saat kita butuhkan. ia selalu mendengarkan segala keluh kesah kita. nggak pernah protes atau marah ke kita. nasehatin kita. banyak deh. niru kata-kata bang ajahn brahm, "apapun yang engkau lakukan, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu".
thanks for bang mark zuckenberg dkk, yang udah buang-buang waktu dan masa mudanya buat bikin sebuah situs sederhana yang mendunia ini.
Minggu, 08 Januari 2012
terlalu banyak..
aku mungkin sedikit terlalu berlebihan padamu. sedikit kaget dan amaze ketika dapat telfon atau sms darimu. senyum-senyum sendiri ketika membalas pesan singkatmu. sedikit tidak sabaran menunggumu membalas sms atau wtwku. dan sedikit linglung dan putus asa bila akhirnya tidak ada lagi yang bisa membuatmu stay connected denganku.
tapi itulah rasa. itulah harapan. harapan yang aku tahu sulit untuk diwujudkan. harapan kecil, yang dikelilingi halangan dan rintangan yang besar.
semoga aku tidak terlalu banyak berharap, agar tidak terlalu banyak kecewa.
bulan penuh berkah
waktu itu tarwih malam ke-6. aku menyempatkan diri sholat di mesjid meski perban di telinga ini masih menonjol, dan membuat anak-anak kecil itu sedikit takut dan mencibir, "hii, kenapa mi itu telinganya?? pasti dilappoki petasan..", simpulnya. ah, cuek aja dehh.
setelah ceramah tarwih berakhir, sang imam pun mulai mengambil tempat di depan. ia masih muda, belum kepala tiga, pikirku. aku sholat di saf ketiga, berdampingan dengan seorang tetangga di sebelah kanan, dan seorang kakek tua yang tidak ku kenal di sebelah kiri.
sholat pun dimulai. semua jamaah sholat dengan khusyuk. sesekali kakek di sebelahku ini memecah keheningan dengan batuknya. aku pun maklum. tapi tanpa sengaja, aku memperhatikan gerak geriknya. memang tidak ada yang beda dengan gerakan sholatnya, tapi ada yang kurang. kurang cepat, kurang lincah. ia kalah dengan jamaah lain, yang tentunya mengikuti ritme dan irama sholat sang imam muda itu. sedangkan si kakek, gerakannya lambat dan sedikit patah-patah. rukuk dan sujud susah, bangunnya juga susah. seolah-olah, tiap gerak yang ia lakukan menimbulkan sedikit rasa sakit yang harus ia tahan. ketika sedang sujud, belum dua detik ia mendaratkan keningnya di sajadahnya, belum lengkap bacaan sujudnya, dan mungkin belum lengkap pula doa dan pengharapannya pada Sang Kuasa dalam sujudnya, sang imam sudah mengucapkan takbir bangun dari sujud. begitu seterusnya, di gerakan-gerakan sholat berikutnya, di delapan rakaat tarwih dan tiga rakaat witir malam itu.
ramadhan memang bulan penuh berkah. penuh Rahman dan Rahim dari Allah SWT. dan di bulan itu, kita semua berlomba-lomba mendapatkan berkah-Nya. berkah yang pasti tidak ternilai harganya. semoga kakek tadi kebagian berkah, atas perjuangan dan keikhlasannya dalam beribadah kepada-Nya. aamiin..
lagi GeJe..
sepertinya baru kali ini saya bicara terbata-bata pada seorang wanita, dan ibunya, ehm. bagaimana tidak, saya sudah menyusun rencana memberikan sebuah kejutan padanya, dengan semua perencanaan yang matang, dengan segenap rasa was-was dan canggung yang datang serta perasaan lain yang tidak tahu darimana datangnya, tiba-tiba semuanya.. aduh, sungguh diluar dugaan.
...
kuparkir mobilku di seberang rumahnya. sebelum turun, tentu saya harus melihat keadaan sekitar, alih-alih ada yang di luar dugaan, bisa langsung ku antisipasi. motor hijaunya tidak tampak, sesuai dugaan, sesuai perencanaan, artinya ia memang tak berada di rumah, persis dengan yang dikatakannya padaku sehari sebelumnya. status: clear!
ibunya sedang duduk di toko kecil miliknya, sambil melepas ikatan dari rambutnya yang mulai memutih itu, lalu memasang ikatan itu kembali. tampaknya ia sedikit bingung dengan kehadiranku di depannya. biasanya jika ada pembeli, setidaknya ia langsung mengeluarkan secarik kertas berisi daftar belanjaan, atau uang pecahan besar yang sebenarnya memang hendak ditukarkan dengan membeli jajanan murah, atau handphone, karena di toko itu juga menyediakan pulsa. tapi saya hanya membawa sebuah buku bersampul merah. mungkin pikir sang ibu, saya hendak menjual buku itu padanya, dengan sebuah cerita derita mengharukan, penuh mengiba, agar ia mau membeli buku yang aku bawa dengan penuh rasa belas kasihan, lalu ia akan mendapatkan hadiah lebih besar dari pertolongan yang telah ia berikan karena saya adalah bagian dari tim "minta tolong" yang tayang di tv itu. ah, mukaku gak tampang-tampang kasihan juga kok (bercermin).
singkat cerita, ia masih sedikit bingung karena saya tidak berniat menjual buku itu padanya. ku beri salam dengan penuh hormat, senyum, lalu berkata,
"permisi bu, bisa minta tolong titip buku ini ke kika??"
sekali lagi ia menatapku dalam. satu hal yang kuharap ia lakukan segera, adalah mengambil buku merah itu, lalu menanyakan siapa namaku, dan berakhir dengan kata, "oh iya. terima kasih, nak! nanti ibu titipkan buku dan salamnya buat kika". *nah lho, siapa yang nitip salam nih??
tapi sekali lagi, harapan selalu punya jarak dengan kenyataan. sang ibu kemudian mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak kusangka sebelumnya,
"ohh, ada ji, nak.. ikkaa.. ada temanmu ee.. siniko!!".
*gubrakk.. @#&$!%?/)€¥!!!! sungguh di luar dugaan, saudara-saudara. saya hanya bisa menelan ludah. surprisenya gagal!!!
and then, the best and also the worst part's of this story is, kika tiba-tiba keluar dari rumah, dengan tampang seadanya, pakaian juga seadanya, ee, ekspresi juga seadanya, menyambutku seadanya.
"ini.. buku.. 2.. eeh.. buku.. keduanya.. mas.. dhonny.. llumayan.. kerenn..", sambil mengacungkan jempol.
belum sempat ia berkata apa-apa, aku langsung melirik ke kanan, lalu mundur selangkah.
"eehh.. cabutma.. nahh.."
"ihh, nda masukko dulu??", balasnya.
"eehh.. ituu..", saya mulai bingung.
"mauko ke mana??", aduh, saya makin tertekan.
"eehh.. anu.. mauma.. ke ..selayar.."
"ohh. thanks nah!!"
"iyya.. ehh.. misi, tante.. duluan, kika!". *aduh, panas.. keringatan nihh..
singkat sekali. dan, kentara sekali (groginya. hahaa). sebenarnya saya bisa lebih santai, jika ia keluar dari rumah dengan rapi, sudah mandi, memakai jilbabnya, dan tentunya ibunya tidak menonton kami berbicara berdua.
hufth..
hidup diantara cinta
hidup di antara cinta itu luar biasa, semua benar-benar hidup, ketakutan menjadi kekuatan, keraguan menjadi keyakinan, dan impian menjadi kenyataan.
-2-
kami mengarungi badai itu..
skarang lagi masa sulit. tabungan keluarga sudah menipis. sisa aset-aset tidak bergerak yang masih dipertahankan, mungkin untuk masa depan kami bersaudara.
uang jajan kami tak selega dulu. ikat pinggang, mau nggak mau tidak boleh dilonggarkan. pulsa, dipas-pasin, se-pas-pas mungkin. andaikan casing asli ini bisa dijual, lalu kubeli casing biasa yang tentu jauh lebih murah, sudah dari dulu ku lakukan, demi menambah saldo isi dompet.
oh iya, tabunganku sudah tidak pernah lagi diisi. biasanya sebulan sekali, sekedar untuk belajar menabung, tapi sekarang untuk jajan saja tidak ada. mungkin nomor rekeningku sudah berada di daftar rekening dengan saldo terendah, setiap bulan, setiap hari bahkan.
dulu, sebelum ada si kembar ijo itu, deskripsi tiga paragraf di atas juga tidak ada. sebenarnya lebih dari tiga, cuma aku tak sanggup lagi menulis yang keempat, kelima, dan seterusnya. parah ya??
hampir lupa, si kembar ijo itu adalah dua unit dump truk yang ayah beli setengah tahun lalu secara kredit. tujuannya sih bagus, menambah aset, peluang pemasukan, juga untuk meningkatkan taraf hidup keluarga di kampung. tapi mungkin persiapannya yang kurang matang, juga pengawasan yang kurang serius. alhasil, keluarga kami harus menanggung cicilan dua unit truk itu sebesar tujuh belas juta rupiah sebulan. sementara dari sisi pemasukan, gaji pensiunan ayah dan gaji pns ibu sudah pasti sangat tidak mencukupi. tabungan di beberapa bank yang awalnya masih bisa membeli satu unit mobil secara "cash", sedikit demi sedikit terkuras. hampir habis terpakai untuk menambah kekurangan cicilan yang kadang setiap bulan hanya bisa tertebus setengahnya, murni pemasukan dari truk itu sendiri.
semoga kami bisa melewati badai ini, Ya Allah. mohon kuatkan kami.
mungkin cinta
mungkin kesedihan datang bersama cinta, berjalan beriringan sebagai katalis yang menguatkan.
atau mungkin, kesedihan dan kebahagiaan hanya kilas tipis yang harus ada dalam cinta, saling menguatkan diantara rekah keduanya.
atau mungkin cinta yang benar, cinta selalu datang diantara kebahagiaan dan kesedihan, dan ketika kamu mencintai kamu akan menjadi kuat. diantara kesedihanmu ia datang dan menguatkan, di antara kebahagiaanmu ia datang memberikan.
manusia layaknya mencintai, menjadi kuat dan berani karena mencinta, menahan segala keluh, dan kesedihan yang datang kepadanya, tanpa berputus asa.
-2-
utunn..
utun. nama yang aneh. gak ada duanya. sedikit susah disebut (bibir harus monyong sedikit). sedikit malu-maluin (orang kadang bingung klo nama saya lagi dipanggil.. "hah, apaan?? utull?? utull pa utun??"). klo knalan, susah dapet first impressionx, mesti ngulang. beda banget dengan nama asli saya (Muhammad Chaerul. *nah lho??).
tapi "utun" itu unik.
panggilan itu membuat saya merasa "ada" di antara kalian, teman-teman.
kutipan 2
"jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikit pun tidak pernah"
-Dhonny Dhirgantoro-
perumpamaan rejeki..
namanya daeng iwan. supir truk. dulu ia bekerja pada keluarga kami. sebagai supir truk, tentunya. tapi sejak beberapa menit yang lalu, ia dirumahkan. ayah tidak lagi mempekerjakannya. katanya, ia malas cari rejeki. maunya hanya menunggu rejeki itu datang tanpa sedikit pun ia cari. bukan cuma ayah yang berkata seperti itu, awal, supir truk kami yang satunya, juga berkata demikian. selama ini hampir semua distribusi bahan bangunan yang menggunakan jasa daeng iwan, berasal dari awal, atau supir lain yang sering kongkow-kongkowan dengan daeng iwan. ia tidak pergi mencari sendiri apa yang bisa truknya angkut. ia tidak mencari sendiri apa yang bisa ia dan keluarganya makan.
bagaikan sumur dan gayung, tidak ada sumur yang mencari gayung. gayung lah yang seharusnya mencari sumur.
ulang tahun pace..
hari ini ultahnya pace. dan sebagai hadiah, tadi saya antar dia urus perpanjangan SIMnya. skalian beli sendal, trus cerita2 sepanjang perjalanan. sesekali batuknya menggema seisi mobil, menyadarkan saya bahwa saya bukan anak kecil lagi, dan dia juga sudah tidak muda lagi.
happy birthday, dad..
love you.. forever.. and ever..
*bighug.. :)
the doors..
doors car are massively overrated. yes, they keep out the water and the noise when we travelling. but they also isolate us from the world and its beauty..
i am a . . .
saya menjadi seperti sekarang ini bukan karena saya memandang objektif sebuah harapan dimasa depan, tetapi karena saya memandang subjektif semua kenangan dimasa lalu.
kutipan 1..
"kita tidak membutuhkan seseorang yang sempurna. yang kita butuhkan hanyalah seseorang yang tahu kekurangan kita, tapi tetap ingin bersama."
-Eka Harti-
bukan sinetron
dunia ini bukan sinetron, yang bisa dengan mudah membuat sang tokoh utama mencintai seorang pria pujaan hatinya meski sang pria ternyata bukan berada dari kalangan yang sejajar dengan sang wanita pemeran utama itu.
dunia ini bukan sinetron, yang bisa dengan mudah mengubah nasib sang tokoh utama dari seorang anak jalanan yang miskin menjadi anak seorang pengusaha kaya karena tahu ternyata ia adalah bayi yang ditukar sehari setelah ia lahir oleh seorang yang tidak senang dengan kelahiran.
dunia ini bukan sinetron, yang bisa memisahkan sebuah persahabatan yang telah dibangun sejak kecil oleh dua remaja putri, disebabkan oleh seorang pria tampan dan mapan yang ternyata disukai oleh keduanya.
dunia ini bukan sinetron, yang bisa mengubah benci menjadi cinta hanya dalam 2 kali tayangan.
tapi inilah dunia. nyata. dan tak ada yang tidak mungkin. termasuk membuatmu cinta padaku, meski aku harus menunggu sampai beberapa serial lamanya.
Sabtu, 07 Januari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)